Remaja KTD

PEMBAHASAN

  1. PENGERTIAN KONSELING DAN REMAJA
  • KONSELING

Konseling adalah proses pemberian bantuan dari seseorang konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah. Bantuan diberikan untuk memecahkan masalah yang dialami klien dengan cara wawancara dan diskusi ( Lentera Sahaja, 1999 ).

Untuk menjalankan konseling biasanya konseling dilakukan oleh konselor yang berprofesi sebagai psikolog; konseling dapat juga dilakukan oleh siapa saja yang disebut profesional.Para profesional di bidang konseling adalah konselor yang latar belakang pendidikannya formalnya bukan psikologi atau bimbingan konseling, tetapi mereka diberi bekal pelatihan, keterampilan, pengetahuan konseling. Para profesionalyang terpanggil jiwanya untuk membantu orang lain ini idealnya bekerja di bawah supervisi seorang konselor yang profesional. Konselor harus memenuhi beberapa syarat, seperti mengenal prinsip-prinsip konseling dan menerapkan etika konseling.Pengalaman Lentera Sahaja mendampingi remaja di Yogyakarta dan sekitarnya menunjukkan bahwa remaja lebih terbuka kepada sesama remaja dalam mencari pemecahan masalahyang dihadapinya.

Ada banyak teori konseling dalam psikologi, salah satunya adalah teori ‘client centered’. Teori konseling ini menekankan peran klien sendiri dalam proses konseling sampai pengambilan keputusan. Teori konseling ini berpijak pada beberapa keyakinan dasar tentang martabat manusia bahwabila seseorang mengalami masalah, yang bisa menyelesaikan masalah adalah diri sendiri.Apapun keputusan yang diambil oleh klien adalah hak klien.Dalam berbagai konseling, seseorang konselor berperan sebagai pemberi alternatif solusi, sedangkan pengambilan keputusannya diserahkan kepada remaja.Peran konselor lebih banyak membantu remaja untuk mengambil keputusan bukan sebagai pengambil keputusan.

  • REMAJA

Kata “remaja” berasal dari bahasa latin yaitu adolescere yang berarti to grow atau to grow maturity (Golinko, 1984 dalam Rice, 1990). Banyak tokoh yang memberikan definisi tentang remaja, seperti DeBrun (dalam Rice, 1990) mendefinisikan remaja sebagai periode pertumbuhan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa.Papalia dan Olds (2001) tidak memberikan pengertian remaja (adolescent) secara eksplisit melainkan secara implisit melalui pengertian masa remaja (adolescence).

Menurut Papalia dan Olds (2001), masa remaja adalah masa transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa yang pada umumnya dimulai pada usia 12 atau 13 tahun dan berakhir pada usia akhir belasan tahun atau awal dua puluhan tahun.

Menurut Adams & Gullota (dalam Aaro, 1997), masa remaja meliputi usia antara 11 hingga 20 tahun. Sedangkan Hurlock (1990) membagi masa remaja menjadi masa remaja awal (13 hingga 16 atau 17 tahun) dan masa remaja akhir (16 atau 17 tahun hingga 18 tahun). Masa remaja awal dan akhir dibedakan oleh Hurlock karena pada masa remaja akhir individu telah mencapai transisi perkembangan yang lebih mendekati masa dewasa.

Papalia & Olds (2001) berpendapat bahwa masa remaja merupakan masa antara kanak-kanak dan dewasa. Sedangkan Anna Freud (dalam Hurlock, 1990) berpendapat bahwa pada masa remaja terjadi proses perkembangan meliputi perubahan-perubahan yang berhubungan dengan perkembangan psikoseksual, dan juga terjadi perubahan dalam hubungan dengan orangtua dan cita-cita mereka, dimana pembentukan cita-cita merupakan proses pembentukan orientasi masa depan.

Konseling pada remaja adalah proses pemberian bantuan dari konselor kepada seorang klien atau sekelompok orang yang memiliki masalah seksualitas dan kesehatan reproduksi sesuai dengan umur dan permasalahan, perkembangan fisik dan mental pada masa pubertas, misalnya masalah seputar pacaran, perilaku seks, kesehatan reproduksi secara umum, body image, masalah dalam kehidupan perkawinan, HIV/AIDS, penyakit menular seksual dan kehamilan tidak diinginkan.

  1. MANFAAT DAN TUJUAN KONSELING SEKSUALITAS

Secara umum tujuan konseling seksualitas remaja adalah:

  • Memberi informasi tentang seksualitas secara benar dan proforsional
  • Membantu klien memperoleh identitas dirinya dalam pilihan perilaku dan orientasi seks
  • Meningkatkan pengetahuan seksualitas
  • Mengurangi kecemasan yang dialami oleh remaja berkaitan dengan perilaku dan orientasi seksnya
  • Menghasilkan perubahan dan kebiasaan perilaku yang bertanggung jawab
  • Mengajarkan keterampilan membuat keputusan merujuk klien pada lembaga lain yang lebih berkompeten

Selain tujuan secara umum dari konseling seksualitas tersebut konseling seksualitas juga berfungsi sebagai sarana untuk mendapatkan informasi tentang seksualitas bagi siapapun khususnya remaja.Selama ini sarana-sarana yang dipakai oleh remaja untuk memenuhi keingintahuan mereka pada masalah seksualitas didapatkan dari buku populer tentang seksualitas, diskusi dengan teman sekolahnya, dan nonton film atau video.Informasi yang didapatkan dari berbagai media tersebut seringkali tidak benar, penuh mitos dan salah satu dari bias gender. Melalui konseling seksualitas, remaja akan memperoleh informasi yang benar dan bertanggung jawab dari konselor yang bersangkutan. Remaja juga dapat berdiskusi dengan konselor mengenai problem seksualitas sehingga pada akhirnya remaja bisa memahami nilai pribadinya, sikap dan perilaku seksualnya, serta belajar untuk mengambil keputusan lebih lanjut.Dengan demikian, ketika remaja mempunyai masalah, dia mendapat dukungan dari orang yang bisa memahami masalahnya.

  1. LANGKAH-LANGKAH KONSELING SEKSUALITAS REMAJA

Di dalam konseling seksualitas remaja, diperlukan adanya sebuah Konselor yang memiliki pengetahuan, wawasan, dan ketrampilan komunikasi yang baik. Untuk dapat memberi informasi yang benar, konselor harus memiliki pengetahuan dan wawasan yang memadai dan dapat menyampaikannya dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti oleh remaja.

Adapun langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam melakukan konseling seksualitas remaja adalah sebagai berikut:

  • Saling memperkenalkan diri antara konselor dan klien
  • Konselor melakukan rapport (pendekatan) kepada klien untuk mengkondisikan klien supaya bisa mengungkapkan masalahnya dengan aman dan nyaman. Hal ini bisa dilakukan dengan menggali identitas klien tanpa klien merasa dirinya ‘diselidiki’
  • Setelah suasana mencair, konselor mulai menggali masalah klien, mulai dari latar belakang sampai usaha yang sudah dilakukan untuk memecahkan masalah serta hasilnya
  • Diskusikan alternatif pemecahan masalah yang dihadapi, konselor memberikan informasi mengenai kesehatan reproduksi dan seksualitas sesuai dengan kebutuhan klien
  • Ajak klien menentukan alternatif yang terbaik untuk dia
  • Ajak klien untuk memecahkan tindak lanjut dan proses konseling yang sudah dilakukan

Sedangkan peran konselor di dalam proses konseling seksualitas remaja konselor adalah orang yang bisa melihat permasalahan dari sudut pandang remaja (empati) dan tidak menghakimi atas perilaku seks remaja. Konselor mengajak remaja untuk mengambil keputusan berdasarkan pilihan-pilihan yang ada beserta konsekuensinya, serta melatih keterampilan komunikasi dan bernegoisasi dengan pasangannya. Dalam konseling ini, remaja diharapkan mampu meningkatkan kewaspadaannya terhadap pengetahuan yang berhubungan dengan seksualitas (proses terjadinya kehamilan, fakta dan mitos seksualitas, bagaimana penularan HIV/AIDS dan cara menghindarinya, dan pemeliharaan organ reproduksi), meningkatkan penghargaan terhadap diri sendiri, dan meningkatkan kemampuan pengambilan keputusan secara bertanggung jawab.

  1. ASPEK-ASPEK PERKEMBANGAN PADA MASA REMAJA

Yang dimaksud dengan perkembangan adalah perubahan yang terjadi pada rentang kehidupan (Papalia & Olds, 2001). Perubahan itu dapat terjadi secara kuantitatif, misalnya pertambahan tinggi atau berat tubuh; dan kualitatif, misalnya perubahan cara berpikir secara konkret menjadi abstrak (Papalia dan Olds, 2001). Perkembangan dalam kehidupan manusia terjadi pada aspek-aspek yang berbeda. Ada tiga aspek perkembangan yang dikemukakan Papalia dan Olds (2001), yaitu:

1.      Perkembangan Fisik

Yang dimaksud dengan perkembangan fisik adalah perubahan-perubahan pada tubuh, otak, kapasitas sensoris dan ketrampilan motorik (Papalia & Olds, 2001).Perubahan pada tubuh ditandai dengan pertambahan tinggi dan berat tubuh, pertumbuhan tulang dan otot, dan kematangan organ seksual dan fungsi reproduksi.Tubuh remaja mulai beralih dari tubuh kanak-kanak yang cirinya adalah pertumbuhan menjadi tubuh orang dewasa yang cirinya adalah kematangan.Perubahan fisik otak sehingga strukturnya semakin sempurna meningkatkan kemampuan kognitif (Piaget dalam Papalia dan Olds, 2001).

2.      Perkembangan Kognitif

Menurut Piaget (dalam Santrock, 2001), seorang remaja termotivasi untuk memahami dunia karena perilaku adaptasi secara biologis mereka.Dalam pandangan Piaget, remaja secara aktif membangun dunia kognitif mereka, di mana informasi yang didapatkan tidak langsung diterima begitu saja ke dalam skema kognitif mereka.Remaja sudah mampu membedakan antara hal-hal atau ide-ide yang lebih penting dibanding ide lainnya, lalu remaja juga menghubungkan ide-ide tersebut. Seorang remaja tidak saja mengorganisasikan apa yang dialami dan diamati, tetapi remaja mampu mengolah cara berpikir mereka sehingga memunculkan suatu ide baru.

Perkembangan kognitif adalah perubahan kemampuan mental seperti belajar, memori, menalar, berpikir, dan bahasa.Piaget (dalam Papalia & Olds, 2001) mengemukakan bahwa pada masa remaja terjadi kematangan kognitif, yaitu interaksi dari struktur otak yang telah sempurna dan lingkungan sosial yang semakin luas untuk eksperimentasi memungkinkan remaja untuk berpikir abstrak.Piaget menyebut tahap perkembangan kognitif ini sebagai tahap operasi formal (dalam Papalia & Olds, 2001).

3.      Perkembangan kepribadian dan social

Yang dimaksud dengan perkembangan kepribadian adalah perubahan cara individu berhubungan dengan dunia dan menyatakan emosi secara unik; sedangkan perkembangan sosial berarti perubahan dalam berhubungan dengan orang lain (Papalia & Olds, 2001). Perkembangan kepribadian yang penting pada masa remaja adalah pencarian identitas diri. Yang dimaksud dengan pencarian identitas diri adalah proses menjadi seorang yang unik dengan peran yang penting dalam hidup (Erikson dalam Papalia & Olds, 2001).

Perkembangan sosial pada masa remaja lebih melibatkan kelompok teman sebaya dibanding orang tua (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001).Dibanding pada masa kanak-kanak, remaja lebih banyak melakukan kegiatan di luar rumah seperti kegiatan sekolah, ekstra kurikuler dan bermain dengan teman (Conger, 1991; Papalia & Olds, 2001).Dengan demikian, pada masa remaja peran kelompok teman sebaya adalah besar.

Pada diri remaja, pengaruh lingkungan dalam menentukan perilaku diakui cukup kuat.Walaupun remaja telah mencapai tahap perkembangan kognitif yang memadai untuk menentukan tindakannya sendiri, namun penentuan diri remaja dalam berperilaku banyak dipengaruhi oleh tekanan dari kelompok teman sebaya (Conger, 1991).

  1. CIRI-CIRI MASA REMAJA

Masa remaja adalah suatu masa perubahan.Pada masa remaja terjadi perubahan yang cepat baik secara fisik, maupun psikologis.Ada beberapa perubahan yang terjadi selama masa remaja.

  • Peningkatan emosional yang terjadi secara cepat pada masa remaja awal yang dikenal dengan sebagai masa storm & stress. Peningkatan emosional ini merupakan hasil dari perubahan fisik terutama hormon yang terjadi pada masa remaja. Dari segi kondisi sosial, peningkatan emosi ini merupakan tanda bahwa remaja berada dalam kondisi baru yang berbeda dari masa sebelumnya. Pada masa ini banyak tuntutan dan tekanan yang ditujukan pada remaja, misalnya mereka diharapkan untuk tidak lagi bertingkah seperti anak-anak, mereka harus lebih mandiri dan bertanggung jawab. Kemandirian dan tanggung jawab ini akan terbentuk seiring berjalannya waktu, dan akan nampak jelas pada remaja akhir yang duduk di awal-awal masa kuliah.
  • Perubahan yang cepat secara fisik yang juga disertai kematangan seksual. Terkadang perubahan ini membuat remaja merasa tidak yakin akan diri dan kemampuan mereka sendiri. Perubahan fisik yang terjadi secara cepat, baik perubahan internal seperti sistem sirkulasi, pencernaan, dan sistem respirasi maupun perubahan eksternal seperti tinggi badan, berat badan, dan proporsi tubuh sangat berpengaruh terhadap konsep diri remaja.
  • Perubahan dalam hal yang menarik bagi dirinya dan hubungan dengan orang lain. Selama masa remaja banyak hal-hal yang menarik bagi dirinya dibawa dari masa kanak-kanak digantikan dengan hal menarik yang baru dan lebih matang. Hal ini juga dikarenakan adanya tanggung jawab yang lebih besar pada masa remaja, maka remaja diharapkan untuk dapat mengarahkan ketertarikan mereka pada hal-hal yang lebih penting. Perubahan juga terjadi dalam hubungan dengan orang lain. Remaja tidak lagi berhubungan hanya dengan individu dari jenis kelamin yang sama, tetapi juga dengan lawan jenis, dan dengan orang dewasa.
  • Perubahan nilai, dimana apa yang mereka anggap penting pada masa kanak-kanak menjadi kurang penting karena sudah mendekati dewasa.
  • Kebanyakan remaja bersikap ambivalen dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Di satu sisi mereka menginginkan kebebasan, tetapi di sisi lain mereka takut akan tanggung jawab yang menyertai kebebasan tersebut, serta meragukan kemampuan mereka sendiri untuk memikul tanggung jawab tersebut.
  1. PENGERTIAN KTD

KTD adalah singkatan dari Kehamilan Tidak Diinginkan. Istilah kehamilan yang tidak diinginkan atau KTD mengandung arti sebagai kehamilan yang terjadi saat salah satu atau kedua belah pihak dari pasangan tidak menginginkan anak sama sekali atau kehamilan yang sebenarnya diinginkan tapi tidak pada saat itu, dimana kehamilan terjadi lebih cepat dari yang telah direncanakan. Banyak yang berpikir bahwa KTD hanya terjadi pada remaja saja, tapi ternyata tidak, pada pasangan yang telah menikahpun KTD masih mungkin terjadi, oleh karena kehamilan yang terjadi memang sedang tidak diinginkan.

  1. SEBAB TERJADINYA KTD

KTD tentu saja terjadi akibat telah dilakukannya hubungan seksual, baik yang dilakukan secara sengaja ataupun tanpa sengaja.Beberapa kejadian KTD disebabkan oleh karena tindakan perkosaan ataupun kekerasan seksual. KTD juga dapat terjadi karena kegagalan dalam pemakaian alat kontrasepsi, bayi yang terkandung ternyata menderita cacat majemuk yang berat, kondisi kesehatan ibu yang tidak memungkinkan untuk menjalani kehamilan, karena adanya tuntutan karir, kehamilan terjadi karena incest ( akibat hubungan antar keluarga ), serta oleh karena kehamilan terjadi akibat dilakukan hubungan seksual pranikah, sehingga dirasa masih belum saatnya untuk terjadi, yang didukung pula oleh karena rendahnya pengetahuan akan kesehatan reproduksi dan seksual.

Pada remaja, kehamilan tidak diinginkan terjadi karena remaja belum memiliki kesiapan untuk menjalani kehamilan, baik secara psikis, sosial, fisik, ataupun secara ekonomi.Hubungan seks pranikah yang dilakukan remaja cenderung berbanding lurus dengan angka kejadian KTD pada remaja.

Rendahnya pemahaman juga menyebabkan lahirnya mitos-mitos di masyarakat. Mitos yang tentu saja mengandung makna yang salah, seperti berhubungan seksual sekali tidak akan menyebabkan kehamilan, minum alkohol dan lompat-lompat pasca berhubungan seksual dapat menyebabkan sperma turun kembali sehingga tidak akan menyebabkan kehamilan, dan masih banyak lagi mitos lainnya. Namun sayangnya sampai sekarang masih banyak yang beranggapan bahwa hal tersebut tidak salah. Hubungan seksual pranikah kini marak dilakukan remaja tanpa mereka tahu resiko apa yang dapat terjadi selanjutnya.

  1. DAMPAK KTD

Dampak jika seorang remaja mengalami KTD dapat dilihat dari berbagai aspek terkait dengan kesiapan remaja dalam menjalani kehamilan.Remaja yang mengalami KTD banyak diantaranya yang tidak mendapat dukungan lingkungan sosialnya, remaja dikucilkan, atau bahkan terpaksa berhenti sekolah.Secara psikis tentu aka nada tekanan, baik itu perasaan bersalah, menyesal, ataupun malu.Dan yang paling penting, KTD yang terjadi pada remaja kerapkali berujung pada pengguguran kandungan yang tidak aman dan berisiko.Usia remaja merupakan usia pematangan organ reproduksi, ada kalanya dimana seseorang sudah siap hamil atau belum. Usia muda menjalani kehamilan tentu lebih berisiko terhadap terjadinya masalah pada organ reproduksi.

  1. USIA BAIK UNTUK HAMIL

Jika dilihat dari segi fisik, usia yang dianggap paling baik untuk mengandung adalah pada usia subur perempuan yaitu 30-35 tahun. Kehamilan diatas usia 35 tahun dan dibawah usia 20 tahun termasuk kehamilan berisiko tinggi. Pada usia kurang dari 20 tahun, kodisi fisik panggul belum sempurna sehingga seringkali ketika melahirkan harus melalui operasi Caesar. Sedangkan bila usia lebih dari 35 tahun, maka aka nada kecenderungan mengalami pendarahan setelah melahirkan. Selain itu juga akan berisiko terhadap terjadinya kematian ibu dan bayi. Selain aspek fisik, perlu juga diperhatikan aspek psikis, sosial, dan ekonomi.Secara sosial apakah sudah mendapat dukungan dari lingkungan, secara psikis apakah sudah siap menjadi seorang calon orang tua, dan secara ekonomi apakah sudah mampu menghidupi keluarga barunya.

  1. CARA MENCEGAH KTD

Pertama tentu saja dengan tidak melakukan hubungan seksual sampai benar-benar siap untuk mengalami kehamilan ( abstinensia ). Tapi jika memang sudah menginginkannya, carilah informasi yang tepat agar dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.

  1. HAL YANG DILAKUKAN REMAJA DENGAN KTD

Hal pertama yang harus dilakukan adalah memastikan apakah kehamilan yang dialami memang benar kehamilan yang tidak diinginkan ( KTD ) atau bukan. Selanjutnya jika ternyata kehamilan memang KTD, dapat mempertimbangkan beberapa hal, apakah kehamilan ingin dilanjutkan atau tidak. Jika memutuskan untuk meneruskan kehamilannya maka perlu dipikirkan apakah akan menikah, membesarkan anak seorang diri, ataupun memberikan anak tersebut untuk diadopsi ( biasanya hal ini berlaku untuk kasus-kasus khusus seperti pemerkosaan dan kekerasan. Jika dirawat sendiri maka remaja harus siap secara ekonomi, psikis, dan sosial. Remaja tersebut harus memiliki kesiapan keuangan untuk menjamin kesejahteraan anaknya dengan penuh perhatian dan kasih saying, serta mampu mengantisipasi kendala yang mungkin ada dilingkungan dan beradaptasi dengan lingkungan itu sendiri, sehingga si anak nantinya tidak akan terlantar sehingga dapat hidup dengan sehat dan layak.

Jika memutuskan untuk tidak meneruskan kehamilannya maka perlu dipertimbangkan risiko yang akan dihadapi, kemungkinan timbulnya penyesalan dan perasaan bersalah, kemungkinan terjadninya infeksi yang dapat mengakibatkan peradangan, dan risiko kemungkinan timbulnya kemandulan. Maka dari itu carilah informasi, agar dapat mengetahui dan mendapatkan pertolongan yang tepat dan aman.

Diskusikan yang dialami pada orang terdekat yang kiranya dapat dipercaya atau dapat menjaga rahasia agar ada dukungan dan simpati yang dapat membuat menjadi lebih tegar. Tidak usah mencoba hal-hal yang sering dilakukan orang lain yang mengalami KTD, misalnya : minum jamu, memijat atau memukul bagian perut, memasukkan sesuatu kedalam vagian dan rahim yang tentunya dapat berisiko terhadap kesehatan. Jika masih mengalami kesulitan dalam mempertimbangkan keputusan yang akan diambil, sebaiknya konsultasikan diri pada konselor kesehatan reproduksi ataupun biro-biro konsultasi psikologis. Melalui konseling remaja dapat mendiskusikan bersama masalah-masalah yang dihadapi dan memutuskan alternatif-alternatif yang mungkin bisa diambil.

  1. PERANAN LINGKUNGAN

Bagi yang mengalami KTD, dukungan lingkungan tentu sangat diperlukan.Perhatian serta pengertian tentu sangat dibutuhkan. Jangan sampai kita sebagai pihak yang seharusnya mendampingi malah menyalahkan dan akan membuat remaja semakin merasa terperosok. Sekarang bukan bagaimana mencari siapa yang bersalah tapi bagaimana cara mencari pemecahan masalah bersama. Selain itu bagi para remaja, ada baiknya jika mulai sekarang dapat mencari informasi ke tempat yang tepat sehingga ke depannya tidak aka ada hal yang tidak diinginkan terjadi.Selain itu juga dapat menjaga kesehatan organ reproduksi dengan lebih baik.

Pos ini dipublikasikan di Konseling Kebidanan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s