Tingkat Keberhasilan Penyembuhan TBC Paru Primer Pada Anak Usia 1-6 Tahun

TINGKAT KEBERHASILAN PENYEMBUHAN TUBERKULOSIS PARU
PRIMER PADA ANAK USIA 1-6 TAHUN DI DESA CIBUNTU
CIBITUNG BEKASI DENGAN PENDEKATAN
POLA PERAWATAN 2007

Oleh: Arita Murwani dan Yomah Yuliana

ABSTRACT
Background: Pattern of parent Treatment to child of primer lungs TB can support a patient
healing, including: environment, housing, medication monitoring, nutrition accomplishment,
take a rest accomplishment, treatment of respiration trouble and feel balmy accomplishment
(Ngatsiyah, 2003).

According to Bahar 2001, long patient TB medication and have exceeded
(6-9 month) need a lot of money, by founded of rifampisin occur “minirevolusi” in chemo
therapy to tuberculosis, so medication duration can be taken a short cut to become 6-9
month. Objective of the study is to know the healing success level of primer lungs
tuberculosis at child 1-6 years old in Cibuntu, Cibitung Bekasi.
.
Methods: This research is non experiment having the character of descriptive. By using
retrospective approach. This research is done in Cibuntu, Cibitung, village Bekasi. Technique
of Intake sample by using saturated technique sample with the 30 responders who consists of
mothers that its child suffer the primer lungs TB and have 1-6 years old. The data is taken
between August to September 2007 by using questioner and data from patient identity.
Analyze the data by using koefsien biserial.
Result: Result of hypothesis obtained by correlation coefficient is r = 0,898 with the
significant level is 0,05 the matter show healing success level of primer lungs tuberculosis at
child 1-6 years old. Conclusion: The more mother pattern treatment to primer lungs
tuberculosis child hence the most quick process its healing.
Keywords: Treatment Pattern, Tuberculosis, child 1-6 years old.
1
Staf pengajar STIKES Surya Global Yogyakarta
Alumnus Ilmu Keperawatan STIKES Surya Global YogyakartaJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang telah lama dikenal.
Penyakit ini menjadi masalah yang cukup besar bagi kesehatan masyarakat
terutama di negara yang sedang berkembang. Tuberkulosis merupakan
penyebab utama kematian di antara berbagai infeksi yang dilaporkan.
Penyakit ini sangat menular dan menyerang semua umur. Indonesia di antara
tiga juta penduduk yang suspek tuberkulosis, 220.000 dengan sputum BTA
positif atau 2,4 per seribu penduduk.
Sejak tahun 1995 program pemberantasan penyakit TB paru telah
dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment
Shortcourse), dimana strategi ini dapat memberikan angka kesembuhan yang
tinggi dan paling cost effective. Adapun secara jelasnya strategi
penanggulangan (Tuberkulosis) TB nasional antara lain: Paradigma sehat
dilakukan dengan meningkatkan penyuluhan untuk menemukan kontak sedini
mungkin serta meningkatkan cakupan program. Promosi kesehatan dalam
rangka perilaku hidup sehat yang meningkat serta upaya perbaikan
perumahan dan peningkatan status gizi Strategi DOTS ditekankan pada
pengobatan dengan panduan Obat Anti Tuberkulosis OAT jangka pendek dan
Pengawas Minum Obat (PMO) secara langsung. Peningkatan mutu
pelayanan terutama pada ketersediaan OAT untuk semua penderita TB,
ketepatan diagnosa TB, kualitas laboratorium dan pembentukan kelompok
puskesmas pelaksana (KPP). Pengembangan program dilakukan secara
bertahap keseluruh unit pelayanan kesehatan. Peningkatan kerjasama
dengan semuah pihak. Kabupaten atau kota sebagai titik berat manajemen
program. Kegiatan penelitian dan pengembangan memperhatikan komitmen
internasional (Dep Kes RI, 2001).
Visi dari program nasional penanggulangan TB paru adalah TB tidak
lagi menjadi masalah kesehatan masyarakat. Dukungan visi tersebut
ditetapkan tujuan jangka panjang dan jangka pendek (Dep Kes RI, 2001).
Tujuan jangka panjang yaitu menurunkan angka kesakitan dan angkaJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

kematian dengan cara memutuskan rantai penularan. Sementara tujuan
jangka pendeknya adalah tercapainya angka kesembuhan minimal 85% dari
semua penderita baru yang ditemukan serta tercapainya cakupan penemuan
penderita secara bertahap sehingga pada tahun 2005 dapat mencapai 70%.
Pencapaian tujuan tersebut ditetapkan target program adalah angka konversi
pada akhir pengobatan tahap intensif minimal 80%, angka kesembuhan
minimal 85% dari kasus baru. Selain itu penyediaan Obat Anti Tuberkulosis
OAT diberikan secara cuma-cuma dan dijamin ketersediaanya (Dep Kes RI,
2001).
Tuberkulosis primer disebut juga penyakit tuberkulosis pada bayi dan
anak serta merupakan penyakit sistemik, juga penyakit menular yang
disebabkan oleh basil Mycobacterium tuberculosa tipe humanus ( jarang oleh
tipe Mycobacterium bovines ). Mycobacterium tuberculosa masuk melalui
saluran nafas (droplet infection) sampai alveoli terjadilah infeksi primer. Lesi
di dalam paru dapat terjadi di berbagai tempat terutama di perifer dekat
pleura. Lebih banyak terjadi di bagian bawah paru dibandingkan dengan
bagian atas. Pembesaran kelenjar regional lebih banyak terdapat pada anak
dan penyembuhan terutama ke arah klasifikasi serta penyebaran hematogen
lebih banyak terjadi pada bayi dan anak kecil (Ngastiyah, 2003). Masalah
klinis yang sering dihadapi adalah sulitnya diagnosis karena gambaran
rontgen paru dan gambaran klinis yang tidak terlalu khas, sedangkan
penemuan basil TB sulit. Anak biasanya tertular sumber infeksi yang
umumnya penderita TB dewasa. Anak yang tertular TB disebut mendapat
infeksi primer TB. Penyakit TB biasanya menimbulkan gejala, tetapi karena
gejala tersebut seringkali tidak jelas maka pasien atau orang tuanya tidak
menyadari atau memperhatikannya.
Pengobatan pasien tuberkulosis dalam jangka waktu yang panjang dan
telah melebihi masa penyembuhan yang semestinya (6 sampai 9 bulan) akan
memerlukan biaya yang lebih banyak (Bahar, 2001). Pola perawatan orang
tua terhadap anak tuberkulosis primer dapat mendukung masa penyembuhan
pasien, yang meliputi : lingkungan perumahan, pemantauan pengobatan,
pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan istirahat, dan perawatan masalah
khusus pada gangguan pernafasan dan pemenuhan rasa nyaman. Lama
waktu pengobatan yang lebih panjang dari yang seharusnya membuat orangJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

tua tidak sabar dan merasa kasihan pada anaknya karena harus terus minum
obat, maka orang tua tidak datang membawa berobat kembali anaknya
sehingga obat akan berhenti sebelum waktunya yang justru dapat
menimbulkan komplikasi yang sebagian besar terjadi dalam 2 bulan setelah
terjadinya penyakit dan merupakan fokus reaktivasi nantinya (Ngastiyah,
2003).
Berdasarkan hasil wawancara terhadap 15 orang ibu pada tanggal 1-3
Juni 2007 maka diperoleh data sebanyak 65% penderita TB paru primer dari
golongan umur 1-6 tahun, 5% dari golongan usia lebih dari 6 tahun, 10% dari
golongan remaja sampai dengan dewasa, 20% merupakan golongan orang
tua. Data tersebut menunjukkan jumlah terbanyak penderita adalah dari
golongan usia 1-6 tahun sebanyak 65% penderita TB paru primer. Sebanyak
15 penderita telah melakukan kemotherapi dengan pengobatan jangka
pendek (6-9 bulan), dan didapatkan data dari 9 responden sembuh pada 10-
12 bulan, 4 responden sembuh pada 6-9 bulan, 2 responden sembuh lebih
dari 1 tahun.
Pola perawatan yang dilakukan ibu dalam penanganan anak TB paru
primer yaitu ibu melakukan perawatan penderita sama dengan penderita
panyakit lain, tetapi ibu terkadang lupa mengawasi penderita untuk menelan
obat secara teratur sesuai anjuran. Selanjutnya pola pemenuhan nutrisi, ibu
tidak memberikan menu yang bergizi setiap hari kepada penderita. Pola
istirahat, ibu tidak mengatur pola istirahat yang baik serta efektif bagi
penderita. Olah raga, ibu kurang menganjurkan si penderita untuk berolah
raga di tempat terbuka, olah raga hanya di lakukan satu kali dalam seminggu.
Pola perawatan lingkungan, ibu selalu membersihkan lingkungan rumah dan
kamar si penderita setiap hari, akan tetapi jendela rumah & kamar tidak di
buka setiap hari dikarenakan banyaknya polusi (debu). Terkait dengan uraian
tersebut, maka perlu dilakukan sebuah penelitian mengenai : Hubungan pola
perawatan pada anak tuberkulosis paru primer dengan lama penyembuhan
pada anak usia 1-6 tahun di Desa Cibuntu Cibitung Bekasi. Perumusan
masalahnya adalah : “Apakah ada hubungan pola perawatan pada anak TB
primer dengan lama penyembuhan pada anak usia 1-6 tahun di Desa Cibuntu
Cibitung Bekasi ?”.JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

Tujuan Penelitian
Tujuan umum : diketahui hubungan pola perawatan pada anak TB paru
primer dengan lama penyembuhan pada anak usia 1-6 tahun di Desa Cibuntu
Cibitung Bekasi tahun 2007. Tujuan khususnya adalah : Pertama,
diketahuinya pola perawatan pada anak TB primer di Desa Cibuntu Cibitung
Bekasi. Kedua, diketahuinya lama penyembuhan TB primer pada anak usia 1-
6 tahun di Desa Cibuntu Cibitung Bekasi.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian
Metode analisa penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif,
dengan suatu pendekatan retrospektif.
Populasi dan sampel penelitian
Populasi adalah keseluruhan kelompok, individu atau objek yang
diminati oleh peneliti (Arikunto, 2006). Populasi dalam penelitian ini adalah
seluruh anak yang menderita tuberkulosis paru yang minimal telah
menjalankan pengobatan 6-9 bulan berdomisili di Desa Cibuntu Cibitung
Bekasi yang berjumlah 30 orang. Sampel dalam penelitian ini menggunakan
sampel jenuh yaitu semua ibu-ibu yang anaknya menderita tuberkulosis paru
primer yang berusia 1-6 tahun sebanyak 30 orang yang ditemukan dan telah
menjalani pengobatan minimal 6-9 bulan di Desa Cibuntu Cibitung Bekasi.
Lokasi dan Waktu penelitian
Penelitian ini dilakukan di Desa Cibuntu Cibitung Bekasi pada tanggal
3 Agustus sampai dengan 29 September 2007.
Teknik pengumpulan data
Pengumpulan data dapat menggunakan sumber data primer dan
sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung
memberikan data kepada pengumpul data, sedangkan sumber data sekunder
adalah sumber yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul
data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen. Data Primer diperolehJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

melalui penyebaran angket dengan menggunakan kuesioner, sedangkan
data sekunder diperoleh dari kartu identitas yang ada pada pasien.
Instrumen penelitian
Peneliti menggunakan kuesioner dengan pertanyaan tertutup, artinya
setiap responden hanya memilih jawaban yang telah disiapkan oleh peneliti.
Pertama, instrument penelitian yang digunakan untuk mengukur variabel
independent “pola perawatan ibu pada anak TB paru primer” dengan
menggunakan skala nominal dengan ketentuan rendah (0-6), sedang (7-13),
baik (14-20). Pola perawatan ibu pada anak TB paru primer peneliti
menggunakan bentuk pertanyaan tertutup dengan ketentuan jawaban “ya”
dan “ tidak” dan diberi skor 1 jika jawaban YA dan 0 jika jawaban TIDAK.
Hasil pengukurannya digolongkan dalam katagori rendah, sedang, dan baik
(Arikunto, 2006). Kedua, untuk mengukur variabel dependent “lama
perawatan anak usia 1-6 tahun” dengan menggunakan skala interval dengan
ketentuan sembuh cepat 6-9 bulan, sembuh sedang 10-12 bulan, sembuh
lambat >12 bulan.
Pengolahan dan Analisa Data
Analisa data yang dilakukan setelah seluruh data terkumpul, meliputi
pengolahan data yang terdiri dari : Pertama, editing. Tahap ini dilakukan
untuk memastikan bahwa data yang diperoleh adalah lengkap. Kedua,
coding. Tiap hasil dari pengamatan dan wawancara diberi nomor kode pada
lembar pedoman, untuk memudahkan pada waktu memasukkan data (entry
data). Ketiga, scoring. Menghitung skor atau nilai dari masing-masing variabel
yaitu pola perawatan dan lama penyembuhan. Keempat, entry data.
Memasukkan data komputer, selanjutnya data dihitung dengan menggunakan
SPSS 11,5 for Windows dengan taraf signifikasi p= 0,05 (Sugiyono, 2004).
Langkah-langkah analisis data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
Pertama, analisa univariat bertujuan untuk menghasilkan persentasi dari tiap
variabel, baik variabel bebas maupun variabel terikat (Notoatmojo, 2003) dan
menyajikan data distribusi frekuensi. Kedua, analisa bivariat dilakukan untuk
mengetahui adanya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat
dengan menggunakan rumus koefisien biserial yaitu : (Riwidikdo, 2006)JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

r
b =
 
u
p q
u
.
1 0

  
Keterangan rumus :
μ1 = rata-rata dari skor Y dari variabel yang sama misalnya (1)
μ0 = rata-rata dari skor Y dari variabel yang sama misalnya (0)
σu = standar deviasi dari selurh skor Y,
 
N
 Y 

2


p : proporsi dari responden yang bernilai sama (1)
q : proporsi dari responden yang bernilai sama (0)
u : adalah ordinat (tinggi) dalam kurva normal sebagai batas antara
proporsi p dan q
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Hasil Penelitian
Karakteristik Responden Penelitian
Karakteristik responden berdasarkan tingkat pendidikan terbanyak
adalah SLTA yaitu 11 responden (36,67%) (tabel 1), berdasarkan pekerjaan
ibu terbanyak adalah ibu rumah tangga (IRT) yaitu 15 responden (50%) (tabel
2). Karakteristik responden berdasarkan usia anak terbanyak adalah anak
usia 3-4 tahun yaitu 11 responden (36,67%) (tabel 3), sedangkan
berdasarkan pola perawatan terbanyak adalah 18 responden (60%) (tabel 4).
Karakteristik responden berdasarkan lama penyembuhan terbanyak adalah
anak sembuh sedang 10-12 bulan yaitu 13 responden (43,33%) (tabel 5),
sedangkan pola perawatan mayoritas berpola perawatan baik sebanyak 18
responden (60 %) dengan kriteria baik. Lama penyembuhan mayoritas
sembuh sedang sebanyak 13 responden (43,33%) (tabel 6). Berikut ini
disajikan tabulasi data 1 sampai dengan 6 :
Tabel 1. Distribusi Responden berdasarkan Pendidikan di Desa Cibuntu,
Cibitung Bekasi Agustus – September 2007
No Pendidikan Frekuensi Persentase
1 SD 8 26,67JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

2 SLTP 6 20,0
3 SLTA/Sederajat 11 36,67
4 PT (Perguruan tinggi) 5 16,66
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer 2007
Tabel 2. Distribusi Responden berdasarkan Pekerjaan Ibu di Desa Cibuntu,
Cibitung Bekasi Agustus – September 2007
No Pekerjaan Ibu Frekuensi Presentase
1 Ibu Rumah Tangga (IRT) 15 50,0
2 Petani 7 23,33
3 Wiraswasta 6 20,0
4 PNS 2 6,67
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer 2007
Tabel 3. Distribusi Responden berdasarkan Usia Anak di Desa Cibuntu,
Cibitung Bekasi Agustus – September 2007
No Usia Anak Frekuensi Presentase
1 1-2 Tahun 10 33,33
2 3-4 Tahun 11 36,67
3 5-6 Tahun 9 30,0
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer 2007
Tabel 4. Distribusi Responden Berdasarkan Pola Perawatan di Desa Cibuntu,
Cibitung Bekasi Agustus – September 2007
Sumber : Data Primer 2007
No Pola Perawatan Frekuensi Presentase
1 0-6 Rendah 0 0
2 7-13 Sedang 12 40,0
3 14-20 Baik 18 60,0
Jumlah 30 100JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

Tabel 5. Distribusi Responden Berdasarkan Lama Penyembuhan di Desa
Cibuntu, Cibitung Bekasi Agustus – September 2007
Lama Penyembuhan Frekuensi Presentase
Sembuh Cepat 6-9 bln 9 30,0
Sembuh Sedang 10-12 bln 13 43,33
Sembuh Lambat > 12 bln 8 26,67
Jumlah 30 100
Sumber : Data Primer 2007
Tabel 6. Tabulasi Silang Pola Perawatan dengan lama Penyembuhan di Desa
Cibuntu, Cibitung Bekasi Agustus –September 2007
Cepat Sedang Lambat
F % F % F %
Jumla
h
%
Rendah 0 0 0 0 0 0 0 0
Sedang 6 20,0 6 20,0 0 0 12 40,0
Baik 3 10,0 7 23,33 8 26,67 18 60,0
Jumlah 9 30,0 13 43,33 8 26,67 30 100
Sumber : Data Primer 2007
Pembahasaan
Pola Perawatan
Pola perawatan terhadap anak TB Paru primer dapat mendukung
masa penyembuhan pasien, yang meliputi: lingkungan perumahan,
pemantauan pengobatan, pemenuhan kebutuhan nutrisi, pemenuhan
istirahat, perawatan masalah khusus pada gangguan pernafasan dan
pemenuhan rasa nyaman (Ngatsiyah, 2003). Hasil penelitian menunjukkan
dari 30 responden 18 ibu (60%) berpola perawatan baik, dan 12 ibu (40%)
berpola perawatan sedang. Pasien dengan TB tidak dirawat dirumah sakit
oleh karena jumlahnya cukup banyak dan dapat dirawat dirumah kecuali bila
terjadi komplikasi seperti TB milier, meningitis TB, pleuritis dan sebagainya.
Keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat manusia dan dalam unit ini
lahirlah anak yang lebih muda yang sebagian besar dari kebutuhan
perkembangan harus dipenuhi oleh ayah dan ibu si anak. Jika salah satu dari
kebutuhan dasar tidak dipenuhi secara adekuat, perkembangan akan
Lama
Pola Penyembuhan
Perawat
anJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

terhambat atau terganggu. Keluarga merupakan unit utama dimana
pencegahan dan pengobatan dilakukan serta diperlukannya keterlibatan dan
dukungan dalam keluarga, sehingga tanpa hal itu maka rehabilitasi akan lebih
sukar (Sachrin. R.M, 1999).
Pemantauan/ pengawasan pengobatan sebanyak 8 responden dengan
kriteria baik Penderita TB paru yang berobat tidak teratur memiliki resiko
untuk tidak sembuh sebesar 6,91 kali dibandingkan dengan penderita yang
berobat teratur. Untuk itu sangat diperlukan dukungan keluarga untuk
memantau dan memotivasi penderita supaya tidak lalai dalam minum obat
dan mengambil obat bila obat akan habis. Pengawasan yang ketat dalam
pengobatan sangat penting untuk mencegah resistensi kuman TB terhadap
obat dan kekambuhan (Kusnarto, 1995).
Pemenuhan kebutuhan nutrisi sebanyak 7 responden, Selain obat
yang diminum teratur, penderita TB perlu makanan yang bergizi. Status gizi
yang buruk dapat mempengaruhi tanggapan tubuh berupa pembentukan
antibodi dan limfosit terhadap adanya kuman penyakit. Pembentukan ini
diperlukan bahan baku protein dan karbohidrat, sehingga pada anak dengan
gizi jelek produksi antibody dan limfosit terhambat. Selain itu gizi yang buruk
dapat menyebabkan gangguan imunologis dan mempengaruhi proses
penyembuhan penyakit (Alsagaf dan Mukty, 1999). Diet penderita TB harus
cukup mengandung protein. Makanan tidak cukup hanya nasi dan sayur saja
tetapi perlu lauk-pauk seperti ikan,daging, telur dan susu. Akibat dari kuman
TB, paru-paru menjadi keropos dan terjadi proses pengkapuran (kalsifikasi).
Penderita perlu asupan zat kapur lebih banyak. Zat kapur banyak terkandung
pada susu, ikan teri atau tablet kalsium. Jadi makanan bergizi dan zat kapur
ibarat semen untuk menebalkan bagian tubuh / paru yang berlubang dan
keropos akibat digerogoti kuman TB.
Lingkungan perumahan, kebutuhan aktivitas dan istirahat yang hanya
sebesar 3 reponden. dikarenakan banyaknya responden yang tinggal di
lingkungan/areal industri dan jarangnya ibu-ibu yang mengajak anaknya untuk
berolah raga ditempat yang berudara segar secara rutin. Lingkungan rumah
yang berpengaruh mendukung kesembuhan serta mencegah penularan
antara lain sanitasi perumahan, kepadatan hunian, ventilasi serta
pencahayaan. Pemukiman yang sehat dirumuskan sebagai tempat tinggalJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

secara permanent, berfungsi sebagai tempat bermukim, beristirahat,
bersantai dan berlindung dari pengaruh lingkungan, yang memenuhi
persyaratan fisiologis, psikologis, bebas dari penularan penyakit dan
kecacatan. Upaya dalam mendukung perawatan penderita TB paru seperti
lantai rumah dibuat dari tegel atau semen dan tidak lembab (Riswah, 2007).
Apabila lantai masih tanah, diusahakan permukaannya dibuat rata, dan jika
akan menyapu lantai hendaknya disiram dulu sehingga akan mengurangi
debu berterbangan (Depkes RI, 2001). Ventilasi dan pencahayaan
berpengaruh pada kesegaran dan kelembaban lingkungan rumah. Hal
tersebut dapat mempengaruhi kondisi penderita (Notoatmodjo, 2003).
Anak supaya menghindari udara dingin, udara malam, terhembus
angin kencang, aktivitas yang berkutat dengan debu, menghirup gas / minyak
wangi yang kesemuanya dapat menimbulkan batuk. Setiap batuk akan
membuat luka di paru-paru menjadi terkoyak / menganga. Perlu disediakan
obat batuk dirumah apabila terjadi batuk darah atau bahkan muntah darah,
segera bawa anak ke rumah sakit karena kondisi tersebut berbahaya dan
memerlukan pengobatan dan perawatan dirumah sakit secara intensif
(Alsagaf dan Mukty, 1999).
Sebanyak 12 ibu (40%) berpola perawatan sedang, dilihat dari
masalah pernafasan 6 responden berpola pernafasan sedang dan
pemenuhan rasa nyaman sebanyak 6 responden berpola perawatan sedang.
Masalah pernafasan terdapat 6 responden sesuai dengan Penderita TB paru
primer dapat beragam keadaannya, dari yang tanpa gejala hingga dengan
gejala berat dan dapat menyebabkan kematian. Gejala yang umum adalah
batuk dan produksi sputum yang banyak. Selain itu adanya destruksi dan
proses peradangan pada parenkhim paru dapat menimbulkan gangguan
fungsi pernafasan. Batuk kadang tidak menyesakkan penderita tetapi dengan
batuk dapat melelahkan dan berakibat pada kecepatan pernafasan serta
memerlukan peningkatan usaha pernafasan. Hambatan mukus / sputum
membuat jalan nafas tidak efektif, hal ini dapat menyebabkan atelektasis dan
gangguan pertukaran gas antara alveolar dan membrane kapiler. Kerusakan
parenkhim dan kavitas membuat perubahan transport gas dengan
berkurangnya daerah untuk difusi (Bahar, 2001).JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

Perawatan penderita TB paru primer diutamakan kepada keluarga
(orang tua) dan lingkungan sekitar. Diharapkan keluarga mampu merawat
anggota keluarganya (Depkes RI, 2000) yaitu dengan : mengawasi anggota
keluarga yang sakit untuk menelan obat secara teratur sesuai anjuran,
mengetahui adanya gejala samping obat dan secara teratur sesuai anjuran,
memberikan makanan bergizi, memberikan waktu istirahat kepada anggota
keluarga yang sakit minimal 8 jam perhari. Olah raga secara teratur di tempat
yang berudara segar, memodifikasi lingkungan yang dapat mendukung
kesembuhan penderita TB paru primer, antara lain mengupayakan rumah
yang memenuhi persyaratan kesehatan seperti : mempunyai jendela atau
ventilasi yang cukup, bebas debu rumah dan lantai tidak lembab. Hal ini
kemungkinan dipengaruhi oleh beberapa faktor : Pertama, tingkat pendidikan
responden yang terbanyak SLTA sebanyak 11 reponden (36,67%).
Pendidikan merupakan hal yang sangat penting, karena pendidikan sangat
mempengaruhi pola pikir seseorang tentang sesuatu hal yang nantinya akan
berpengaruh dalam pengambilan keputusan tertentu. Semakin tinggi tingkat
pendidikan seseorang maka akan semakin besar juga pengetahuan yang
dimiliki, dan tingginya tingkat pendidikan seseorang akan berdampak pada
kemudahan seseorang dalam meningkatkan kesejahteraan hidup
(Notoatmodjo, 2003). Kedua, faktor pekerjaan ibu yang mendominasi yaitu ibu
rumah tangga (IRT) sebanyak 15 responden (50%), Ketiga, usia anak
terbanyak yaitu anak dengan usia 3-4 tahun sebanyak 11 anak (36,67%).
Usia penderita dapat mempengaruhi kerja dan efek obat karena metabolisme
obat dan fungsi ginjal kurang efisien pada bayi dan pada orang tua.
Lama Penyembuhan
Berdasarkan perhitungan terhadap tigapuluh responden didapatkan
hasil sebanyak 13 anak (43,33%) sembuh sedang 10-12 bulan, kemudian 9
anak (30%) sembuh cepat 6-9 bulan, dan yang terakhir 8 anak (26,67%)
sembuh lambat >12 bulan. Menurut Ngastiyah (2003), dalam penyembuhan
penyakit TB dapat dicapai dengan pengobatan spesifik yang adekuat dan
didukung perawatan yang benar yaitu meliputi kepatuhan minum obat,
kepatuhan datang berobat, kebutuhan makanan yang cukup mengandung
gizi, kebutuhan istirahat tidur, kebersihan lingkungan dan ventilasi udaraJURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

sekitar tempat tinggal. Sehingga pasien dengan TB paru primer seharusnya
dapat sembuh dalam waktu satu tahun.
Hubungan Pola Perawatan Dengan Lama Penyembuhan TB Paru Primer
Hubungan pola perawatan dengan lama penyembuhan TB paru primer
dengan mempergunakan perhitungan rumus dari koefisien biserial diperoleh
hasil : ada hubungan antara pola perawatan dengan lama penyembuhan
anak dengan TB paru primer usia 1-6 tahun dan didapatkan koefisien korelasi
sebesar r = 0,898 dengan taraf signifikan 0,05. semakin baik pola perawatan
ibu maka semakin cepat pula lama penyembuhan TB paru primer usia 1-6
tahun.
Terdapat 18 responden (60%) yang berpola perawatan baik, 3
responden (10%) sembuh cepat 7 anak (23,33%) sembuh sedang, 8 anak
(26,67%) sembuh lambat. 12 responden (40%) yang berpola perawatan
sedang, 6 responden (20%) sembuh cepat 6-9 bulan, 6 anak (20%) sembuh
sedang. Terdapat 13 responden (43,33%) sembuh sedang 10-12 bulan, maka
pola perawatan ibu sebanyak 6 responden dengan masalah pernafasan
kategori sedang, dan 7 responden berpola perawatan baik untuk kebutuhan
nutrisi. Kemudian sembuh cepat 6-9 bulan sebanyak 9 responden (30%),
dengan berpola perawatan sedang sebanyak 6 responden untuk pemenuhan
rasa nyaman, dan 3 responden berpola perawatan baik untuk lingkungan
rumah dan kebutuhan aktivitas,istirahat. Dan yang terakhir untuk sembuh
lambat >12 bulan, sebanyak 8 responden (26,67%) dengan pola perawatan
baik untuk pemantauan/pengawasan pengobatan. Akan tetapi hal ini
kemungkinan dipengaruhi oleh keadaan lingkungan rumah dan kebutuhan
aktivitas, istirahat yang hanya 3 responden dikarenakan lingkungan rumah
penderita berada di areal Industri. Serta kurangnya ibu mengajak anaknya
untuk berolah raga di tempat yang berudara segar setiap harinya. Kurangnya
pengetahuan tentang TB paru primer, dengan pendidikan ibu sebanyak 8
responden (26,67%) berpendidikan SD. Dalam penelitian ini dapat diketahui
bahwa adanya hubungan antara pola perawatan pada anak TB paru primer
dengan lama penyembuhan anak usia 1-6 tahun di Desa Cibuntu, Cibitung
Bekasi.JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

KESIMPULAN
Berdasarkan hasil analisa dan pembahasan yang telah diuraikan
sebelumnya, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: Pertama, sebagian
besar pola perawatan orang tua terhadap anak TB paru primer baik. Kedua,
sebagian besar anak TB paru primer sembuh sedang 10-12 bulan. Ketiga,
ada hubungan antara pola perawatan dengan lama penyembuhan pada anak
TB Paru primer dengan usia 1-6 tahun,. Hal ini berarti semakin baik pola
perawatan ibu maka semakin cepat proses waktu penyembuhan anak TB
Paru primer usia 1-6 tahun.JURNAL KESEHATAN SURYA MEDIKA YOGYAKARTA

http://www.skripsistikes.wordpress.com

DAFTAR PUSTAKA
Alsagaf, and Mukty, A. 1999, Dasar-dasar Ilmu Penyakit Paru, Airlangga
University Press
Amin, S 2007. Jurnal Teknologi Kesehatan, vol 1 No. 2. Poltekes
Arikunto, S, 2006, Prosedur Penelitian suatu Pendekatan Praktek, Jakarta :
Rineka Cipta
Bahar, Asril., 2001 Ilmu Penyakit Dalam, Jilid II, Edisi Ketiga, Balai Penerbit
FK UI, Jakarta
DepKes RI, 2001, Pedoman Pemberantasan Tuberkolusis Paru, cet- 5, Ditjen
PPM & PLP Depkes,
Kusnarto, 1995, Faktor-Faktor Penatalaksanaan Penderita Tuberkolusis Paru
Dan Hasil Pengobatan, Thesis Program Pasca Sarjana, Fetp_ Ugm,
Yogyakarta
Ngatsiyah, 2003, Perawatan Anak Sakit, Cet. I EGC, Jakarta
Notoatmojo, S. 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, PT. Rineka Cipta, Jakarta
Riwidikdo, H. 2006, Statistik Kesehatan Belajar Mudah Teknik Analisis Data
Dalam Penelitian Kesehatan (Plus Aplikasi Software SPSS), Yogyakarta
Mitra Cendikia Press
Riswah, M, 2007, Mencegah Tuberkolusis, Jurnal Kesehatan Masyarakat vol
1 Number 2 pp 23-25 Surabaya
Sachrin Rosa M. Et.All Alih Bahasa : Maulany. 1999, Prinsip Keperawatan
Pediatrik, Edisi 13 EGC Jakarta

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s